Kisah itu menjadi 'side story' popular di republik itu berikutan ketegasan beliau ketika meeting dengan bos-bos Air Asia Indonesia.
Malangnya... beliau nampaknya tidak popular dikalangan juruterbang, bukan saja dari Air Asia bahkan dari syarikat-syarikat penerbangan lain.
Khabarnya kenyataan beliau semasa memarahi pihak pengurusan Air Asia memperlihatkan sikap 'bodoh sombong' menyebabkan pilot-pilot naik angin.
Sehingg ada yang berani menulis surat terbuka.
Salah satunya dari juruterbang Qatar Airways bernama Fadjar Nugroho yang sampai membuat surat terbuka untuk Jonan. Ini isinya sebagaimana dikutip dari laman web media berpengaruh Tempo.
"Bapak Menteri yang terhormat, perkenalkan nama saya Fadjar Nugroho. Pekerjaan saya penerbang. Mungkin di mata orang lain ini adalah sebuah pekerjaan hanya sebagai supir. Tapi saya bangga karena katanya pekerjaan saya membutuhkan (memerlukan) kemampuan otak dan fisik yang tinggi.
Saya baru saja membaca berita bahwa bapak datang ke Air Asia dan marah besar kepada manejemen perusahaan tersebut karena laporan cuaca yang tidak diambil di briefing office tapi malah mengambil dari internet.
Sama dengan penerbang Air Asia dan penerbangan lainnya, pada waktu saya terbang di Indonesia menggunakan pesawat beregistrasi Indonesia, saya harus mengambil laporan cuaca dari BMKG.
Kenapa BMKG? Karena sudah bertahun-tahun tertulis bahwa sebuah penerbangan komersial berbasis PKPS (Peraturan Keselamatan Penerbangan Sipil) nomor 121 ayat 101 memberikan petunjuk seperti di bawah ini.